Midwifery worLd "mind and soul"

. . . WeLcoMe to MidwiFeRy worLd . . .

Sabtu, 27 Oktober 2012

Bolehkah memakai Oksigen saat berpuasa??

Hal ini pernah saya alami saat praktik klinik, seorang pasien yang sudah berumur bertanya saya sedang berpuasa, apakah saya boleh memakai oksigen yang dicampur dengan obat??

Bimbang untuk menjawabnya,,

Namun, berdasarkan salah satu buku yang membahas tentang keislaman disebutkan bahwa oksigen tersebut tidak membatalkan puasa. Kita semua menghirup udara selama berpuasa. Karena itu, pemakaian oksigen tidak membatalkan puasa, sama halnya dengan masuknya asap atau debu atau aroma parfum atau kembang.

Sumber

Shihab, M. Quraish. M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui. Jakarta: Lentera Hati. 2008. hal 109

Keluarga Berencana

Bagaimana pandangan Islam tentang penggunaan alat kontrasepsi??
Bagaimana dengan sterilisasi??

Dari salah satu buku yang saya baca, dijelaskan bahwa Islam memperkenalkan lima tujuan pokok kehadirannya, yang kepadanya bertumpu seluruh tuntunannya. lima tujuan pokok tersebut adalah berkaitan dengan pemeliharaan (1) agama, (2) jiwa, (3) akal, (4) keturunan, dan (5) harta.

Segala petunjuk agama, baik berupa perintah maupun larangan, pasti pada akhirnya mengantar pada satu atau lebih dari kelima hal poko di atas. selanjutnya, semua langkah kebijaksanaan yang bermuara pada salah satu dari kelima hal di atas dapat menjadi tuntunan agama. Dari lima prinsip tersebut dan secara khusus prinsip "pemeliharaan terhadap keturunan", kebijaksanaan kependudukan mendapat pijakan agama yang amat kukuh.

 Kemudian, dari petunjuk-petunjuk global, diperoleh pula pijakan kukuh berkaitan dengan kependudukan. Sebagai contoh, dapat dikemukakan bahwa dalam Al-Qur'an menegaskan bahwa alam raya berjalan atas dasar pengaturan yang serari dan perhitungan ynag tepat (QS. Ar-Rahman [55]: 7-9 dan Al-Mulk [67]: 3). Ibadah yang dituntut pelaksanaannya pun berdasarkan keserasian, dan perhitungan demikian itu (misalnya shalat, zakat, puasa dan haji). Semua itu akan mengantar seorang Muslim untuk menyadari perlunya perhitungan-perhitungan yang tepat serta keserasian dalam kehidupannya, termasuk dalam kehidupan rumah tangga (jumlah keluarga) yang harus diserasikan dengan kemampuan ekonominya. 

Sisi ketiga yang menjdai pijakan dalam pandangan  agama (Islam) tentang kependudukan adalah kandungan ayat atau hadist yang secara tersurat atau tersirat berbicara tentang kependudukan. Memang disini, boleh jadi timbul aneka penafsiran yang menjadikan anda merasa semacam ada "pemmaksaan".

akan tetapi dari semua hal di atas, tanpa harus menyebut satu ayat pun kita dapat menyimpulkan bahwa Islam membenarkan penggunaan kontrasepsi, apalagi hal tersebut telah dipraktikkan oleh sahabat Nabi dengan cara yang mereka kenal ketika itu, yakni 'azl atau coitus interuptus.

Segala macam dan bentuk kontrasepsi dapat dibenarkan oleh Islam selama (1) tidak dipaksakan, (2) tidak menggugurkan, (3) tidak membatasi jumlah anak, (4) tidak mengakibatkan pemandulan abadi. (Walaupun hal tersebut dapat dibenarkan apabila pengabaiannya diduga keras dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan atau jiwa ibu, bapak, dan anak yang dikandung).

Selama ini sterilisasi dipahami oleh ulama sebagai pemandulan abadi, sehingga mereka membedakannya dengan alat kontrasepsi yang lain, misalnya semacam spiral yang berfungsi menghalangi pertemuan sperma dengan ovum, dan yang sewaktu-waktu bila dikehendaki dapat dicabut. Akan tetapi, jika perkembangan ilmu menemukan satu cara yang tidak mengakibatkan pemandulan abadi, atau sterilisasi yang dilakukan dapat ditempuh dengan hal tersebut, maka tentu hukumnya dapat berubah dari terlarang menjadi boleh.

Demikian, Wallahu a'lam

Sumber:
Shihab, M. Quraish. M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui. Jakarta: Lentera Hati. 2008. hal 457.

Bolehkah Ibu Hamil Berpuasa??

Banyak orang bertanya, apakah ibu hamil boleh berpuasa?? apakah ada efek samping untuk ibu maupun janin? bagaimana cara mengganti puasa karena menyusui bayi, apakah dengan puasa atau dengan membayar fidyah??

Hal ini bergantung pada kondisi masing-masing ibu. Ibu hamil itu unik, setiap ibu hamil memiliki keluhan dan kondisi yang berbeda-beda.

Hukum Islam membolehkan bagi ibu hamil untuk tidak berpuasa jika ibu hamil tersebut mengkhawatirkan adanya efek samping negatif bagi dirinya atau janinnya. Tentunya disarankan untu berkonsultasi terlebih dulu dengan bidan atau dokter untuk mengetahui kondisi ibu dan janin. 

Apabila ibu hamil atau ibu menyusui tidak berpuasa maka mereka wajib menggantinya di hari lain tanpa membayar fidyah menurut mazhab Imam Abu Hanifah. Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dan Hambali, bila keduanya hanya mengkhawatirkan keadaan janin atau bayinya saja maka yang hamil atau yang menyusui harus menggantinya dengan tambahan membayar fidyah. Mazhab Malik membolehkan tidak membayar fidyah bagi ibu hamil dan hanya mewajibkan qadha dan fidyah bagi yang menyusui. fidyah adalah memberi makan setiap hari tidak berpuasa kepada seorang miskin. 

Semoga bermanfaat..

Sumber:
Shihab, M. Quraish. M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui. Jakarta: Lentera Hati. 2008. hal 116.

Kamis, 19 Juli 2012

Etika


Apakah Etika Merupakan Bagian dari Kehidupan Sehari-hari?
Sangat jelas sekali bahwa etika merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari jika kita memutuskan untuk hidup di antara masyarakat dengan individu lainnya. Sebagai contoh: ketika membeli sebotol shampo, orang secara naluri akan memilih satu jenis yang sesuai dengan tipe rambut keluarga mereka, tetapi secara moral mereka akan memilih merek yang tidak menggunakan binatang sebagai percobaan. Contoh yang lain, ketika membeli makanan, beberapa orang mempertimbangkan penggunaan zat-zat tertentu yang dapat mengancam kesehatan mereka karena itu makanan tersebut dihindari.
Pada beberapa situasi yang serius, seseorang yang minum minuman beralkohol dan kemudian menyetir. Dapat diperdebatkan, pada saat dia menyetir sementara dalam pengaruh alkohol, pengemudi tersebut tidak sepenuhnya rasional dan karena itu pula sangat disarankan untuk lebih berhati-hati dalam membuat keputusan apakah ini tindakan yang benar atau salah.  
·         Apakah Etika?
Etika dapat diaplikasikan sebagai proses dari teori filosofi moral pada situasi nyata. Ditekankan dengan prinsip dasar dan konsep yang mengarahkan manusia dalam berpikir dan bertindak, sesuai dengan standard nilai mereka.
·         Meta – etika
Filosofi moral yang mengarahkan pada tingkat teori dengan memperhatikan  nilai alami dan status pemikiran moral serta bahasa yang digunakan secara bersungguh-sungguh dalam artian ’baik’, ’jelek’ atau ’ kebahagiaan.
·         Etika / Teori Moral
Cenderung merumuskan suatu prosedur atau mekanisme untuk memecahkan masalah etika. Kebanyakan orang dewasa saat ini, sebagai individu yang bersekolah, belajar untuk merumuskan dan memecahkan problem matematika; dapat disarankan oleh sebagian yang merasa sangat sedikit kegunaannya – dan akibat pengalaman masa kecil berpendapat adanya siksaan secara psikologis bahwa guru matematika telah mempengaruhi mereka. 
·         Etika Praktis
Berhubungan dengan isu-isu sehari-hari yang terjadi dalam kehidupan secara umum, dan juga pada daerah yang tertentu seperti obat-obatan dan bisnis. Isu sehari-hari tidak dapat dipisahkan dari isu-isu tertentu, sebagaimana orang tidak dapat bersandar pada kode moral pribadi mereka (untuk kehidupan sehari-hari, dan interaksi antar manusia) dalam memasuki ruang bedah, bangsal atau kantor. Titik ini menunjukkan klien dan staf, karena itu, bentuk kode moral ini sejalan dengan area tertentu, di mana ada isu yang warga biasa tidak dapat menerima.

Apakah Isu Moral?
Tampaknya menjadi topik penting yang berhubungan dengan benar atau salah dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, nilai berdasarkan tempat tinggal seseorang akan terlibat rutinitas yang berhubungan dengan orang lain, pandangan tentang aborsi, euthanasia atau hukuman. Hal itu dapat juga berhubungan dengan peristiwa luar biasa yang terjadi, seperti perang saudara atau konflik bersenjata internasional.

Apakah Dilema Moral?
Suatu masalah yang timbul oleh konflik-konflik dari prinsip-prinsip, di mana semua pilihan yang ditawarkan tampaknya tidak dapat memberikan kepuasan secara total. Jelas kelihatannya, nilai dari situasi ini tidak sepenting dengan yang digunakan untuk menangani seseorang, secara medis maupun sosial.


Apakah Konflik Moral?
Penilaian dari kekuatan antar prinsip-prinsip yang secara jelas merupakan konflik antara prinsip moral atau tanggung jawab yang kadangkala menimbulkan dilema. Ada dua jenis konflik, yang pertama adalah konflik secara prinsip seperti otonomi. Jenis kedua adalah konflik prinsip yang terpisah menjadi dua bagian. Sebagai contoh seorang ibu yang menolak menggunakan episiotomi dalam melahirkan untuk melindungi bayinya; bidan mempunyai kewajiban dalam nilai kehidupan janin tetapi juga mempertimbangkan kepentingan ibu sebagai wanita.    

Bagaimana Kita Mengatasi Dilema – Apakah Kita Perlu Teori Etika?
Seperti telah dinyatakan di atas teori etika cenderung membentuk suatu mekanisme untuk memecahkan masalah moral kita. Orang yang tidak mempunyai latar belakang dalam studi etika juga harus membuat keputusan. Beberapa keputusan sehari-hari kelihatannya dibuat secara intuitif atau praktikal, beberapa dengan “pencarian hati”, sesuai dengan kepercayaan individu dan nilai moral yang menjadi pegangan hidupnya. Disarankan dengan sedikit resmi, timbul etika secara teori. Pada umumnya, orang akan menyatakan bahwa itu semua masalah insting, persepsi atau prinsip, dan untuk beberapa hal tergantung dari situasi.

Utilitarianisme
Suatu teori berdasarkan konsekuensi dari tindakan secara murni. Dipercaya bahwa semua manusia mempunyai satu persamaan, mereka mencari kesenangan dan menghindari kesedihan. Karena itu individu mengikuti kegiatan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesenangan dan memperkecil kesedihan yang terlibat.
1.    Tindakan – Utilitarianisme
Bentuk tradisional dari utilitarianisme di mana setiap satu tindakan dinilai dari setiap konsekuensinya. Prinsip ini mudah dan dapat dipegang, semua tindakan dapat dimudahkan dalam konteks manfaat yang dihasilkan. Semakin tinggi derajat dari manfaat yang diantisipasi, semakin tinggi kesempatan dari tindakan yang benar.
2.    Aturan – Utilitarianisme
Modifikasi dari tindakan utilitarianisme, yang mempermudah suatu tindakan menurut aturan moral, aturan yang benar dan dapat menghasilkan manfaat yang maksimum. Oleh karena itu, selain tindakan pribadi yang memudahkan kegunaan prinsip, dapat juga oleh aturan moral yang diarahkan untuk mempermudah dalam memenuhi prinsip kegunaan.
3.    Beberapa Kritik tentang Utilitarianisme
Suatu keharusan untuk mempertimbangkan apakah permintaan atas nama kaum utilitarian telah diterima. Menjadi bahan pertimbangan secara mudah dan diperhitungkan dalam konteks kegunaan, lebih jauh dilihat kemungkinan bermanfaat dan memprediksi biaya. Bagaimanapun, kemudahan secara jelas atas segala sesuatu yang bermanfaat dapat hilang apabila manfaat itu diperiksa secara seksama.

Deontologis
Teori etika yang mempertimbangkan kewajiban atas isu sentral, sebagai kebalikan dari teori akan ketuhanan, yang menganggap segala sesuatu telah diciptakan Allah untuk memudahkan manusia. Para deontologis percaya apa yang baik buat dunia dari manusia adalah mengerjakan kewajiban mereka. Dengan mempertimbangkan kewajiban dulu, selain konsekuensinya, dan catatan bahwa kebahagiaan bisa didapat di manapun berada.
1.    Monoisme Rasional
Teori berdasarkan satu prinsip utama atau kewajiban yang dilakukan secara rasional dan moral. Segala tindakan dilanjutkan dengan itikad baik dan moral yang masuk akal.
2.    Deontologis Tradisional
Teori berdasarkan kekuatan religius, yang percaya adanya Tuhan dan kemurnian hidup. Teori ini selalu dikaitkan dengan perintah Tuhan dan melakukan apa-apa berdasarkan perintah-Nya pada waktu membuat keputusan yang melibatkan moral.
     
3.    Pluralisme Intuisionistik
Teori berdasarkan lebih dari satu teori prinsipil, dengan tidak adanya teori utama. Lebih menyarankan bahwa ada sejumlah aturan moral atau peraturan lainnya yang harus diikuti di mana aturan moral tersebut memiliki kepentingan yang sejajar.  

Alternatif Lainnya
Ada kalanya beberapa teori formal tidak dapat begitu saja diterapkan dalam setiap situasi. Para praktisi kesehatan cenderung untuk membangun kepekaan moral dari beberapa individu, yang dapat membedakan timbulnya benar atau salah setiap tindakan dengan persyaratan fleksibel di situasi tertentu. Prinsip untuk mengatakan kebenaran bisa jadi contoh di sini. Menurut para deontologis kita mempunyai kewajiban untuk mengatakan kebenaran setiap waktu, apa yang akan terjadi jika dengan mengatakan kebenaran dapat menimbulkan masalah lain? Apabila mengatakan kebohongan akan lebih baik, maka pilihan itu yang akan dipilih.

Etika Kebidanan

PERAN BIDAN DALAM DIMENSI ETIKA


      Dalam beberapa tahun terakhir sebuah kecenderungan telah dibuat kembali peran kebidanan secara keseluruhan, perlahan-lahan peran tersebut hilang seiring dengan periode berkembangnya dunia kesehatan. Para bidan dan kelompok ibu-ibu telah menyalahkan banyaknya waktu dokter-dokter yang terbuang untuk membujuk politikus dan pemerintah setempat akan tersedianya 100% kebutuhan rumah sakit ibu dan anak. Sedangkan dokter lebih peduli akan tersedianya dokter spesialis kandungan, di mana pengajarannya dari mulut ke mulut untuk calon dokter yang kompeten. Para calon dokter menyambung filosofi rumah sakit dan mengembangkan pengajaran ke masyarakat untuk lebih dipraktekkan secara umum.

Peran kebidanan dapat dibagi menjadi beberapa aspek:
·         Bidan sebagai Praktisi
Bidan menjadi semakin peduli dengan istilah ’kewajiban untuk merawat’. Banyak juga yang dikuatkan untuk mempelajari tentang beberapa aspek dari adat istiadat setempat. Sayangnya, ada bidan yang kelihatannya tertarik karena mereka khawatir dengan pertimbangan meningkatnya masalah hukum.   
·         Bidan sebagai Pendidik
Bidan mempunyai dua peran dalam dunia pendidikan, yaitu dengan bertanggung jawab untuk mendidik orang tua dan macam-macam siswa. Para ibu, pasangannya dan kadangkala anggota keluarga lainnya, biasanya membutuhkan bantuan untuk membangun keahlian dan menimbulkan pengetahuan dalam bidang perawatan bayi dan promosi kesehatan. Sementara pengetahuan memberikan kekuatan, pendidikan dan juga pemberdayaan. Tingkat bantuan yang diberikan tergantung dari pengalaman pribadi keluarga tersebut.  

·         Bidan sebagai Konselor
Aspek peran ini termasuk tersedianya informasi dan penjelasan, dalam hal mendengarkan dan membantu para wanita dan keluarganya untuk mencari hal yang diperhatikan dan dipedulikan. Bidan bertanggung jawab pada tugas kewajibannya, untuk menegaskan bahwa informasi pada saat ini dan mereka dapat memahami diri mereka sendiri, yang bertujuan untuk memberikan penjelasan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan.   

·         Bidan sebagai Penasihat
Bidan perlu hati-hati dalam menjawab pertanyaan klien yang memojokkan. Sebagai contoh jika ada klien yang bertanya ke bidan: ’Apa yang akan engkau lakukan?’. Baik pertanyaan mereka merupakan cermin dari pandangan pribadi atau profesional. Sebagai contoh, setelah mendapatkan informasi lengkap, bidan kemungkinan akan ditanya metode anestesi apa yang akan dia pilih dalam operasi caesar. Bisa jadi pandangan pribadi dan profesional akan berbeda. 

·         Bidan sebagai Teman
Bidan diajarkan untuk tidak terlalu terlibat dengan kliennya. Hal ini untuk menghindari konflik kepentingan dan dimaksudkan untuk lebih bersikap profesional dalam melakukan pendekatan yang bersifat medis. Membiarkan klien dan keluarga mereka merasa bahwasanya bidan tersebut mempunyai keahlian, dapat dipercaya dan dapat mengendalikan situasi. Sebagai tambahan, bisa jadi ada unsur tambahan yang dipertimbangkan sebagai perlindungan diri dalam bersikap.
·         Bidan sebagai Advokasi
Di sini peran seorang bidan sedikit menantang ketika klien menolak atau menarik diri, bidan mengambil alih fungsi sebagai perantara antara pihak rumah sakit dan klien, sehingga akhirnya klien mengijinkan penanganan profesional yang terbaik terhadap dirinya dan anak dengan mempertimbangkan hal-hal yang dapat dinasihati ataupun dasar untuk mencegah kematian. 

·         Bidan sebagai Peneliti
Peneliti telah berkembang sejalan dengan profesi kebidanan, sebagaimana dalam semua cabang keperawatan. Dalam hal ini, merupakan dasar dari kebutuhan untuk membuktikan keprofesionalan dan status akademik profesi di mata rekan kerja sejawat dalam bidang kesehatan – untuk lebih kelihatan seperti mendapat masukan yang  berharga lebih dari lembaga subyektif.